UPAYA MENANAMKAN NILAI-NILAI ENTREPRENEURSHIP UNTUK MEMBEKALI KECAKAPAN HIDUP (LIFE SKILL) PADA PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN PRODUK KREATIF DAN KEWIRAUSAHAAN KELAS XII  MELALUI KEGIATAN MARKETDAY

Ika Lestari, S.Pd ~ Istilah entrepreneur diterjemahkan sebagai wirausaha atau wiraswasta. Sedangkan entrepreneurship diterjemahkan sebagai kewirausahaan. Menurut Sarosa (2005), entrepreneur adalah seseorang yang mempunyai visi, semangat dan melakukan tindakan-tindakan nyata dalam usaha menciptakan dan mengembangkan sendiri sumber-sumber pendapatannya tanpa ketergantungan terhadap orang lain.

Sedangkan menurut Suryana (2006), entrepreneurship adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan (ability) dan perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup dan cara memperoleh peluang dengan bermacam-macam resiko yang mungkin dihadapinya. Entrepreneurship juga diartikan sebagai suatu jiwa, sikap dan kemampuan dari seseorang untuk menciptakan sesuatu yang baru yang sangat bernilai dan bermanfaat baik itu untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain (Sakdiyah : 2010).

Dewasa ini jiwa entrepreneurship sangat dibutuhkan, agar seseorang dapat bertahan dan mampu hidup serta menjalani kerasnya zaman. Persaingan antar individu yang semakin tinggi di era globalisasi ini, menggugah dunia pendidikan untuk menanamkan jiwa entrepreneurship ke dalam pembelajaran. Melihat kenyataan tersebut, saat ini gerakan untuk menggaungkan dan memajukan entrepreneurship atau kewirausahaan semakin santer terdengar, Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi memberikan anjuran kepada semua sekolah/ madrasah dan perguruan tinggi untuk menyertakan pembelajaran entrepreneur ke dalam kurikulum pendidikan. Kita sadari bersama bahwa usaha tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba dan tidak semudah membalik telapak tangan.

Menurut Suriani (2014), proses pembentukan entrepreneurship membutuhkan proses pembelajaran yang berlangsung dalam kurun waktu yang sangat panjang. Oleh karena itu, kurikulum pembelajaran entrepreneurship ini diberikan sejak pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi. Di sekolah/madrasah pembelajaran entrepreneurship ini dimaksudkan untuk membentuk peserta didik yang memiliki kemampuan sebagai seorang innovator (Nasution, 2007).

Selain itu menurut Suriani (2014), pembelajaran entrepreneur juga untuk membentuk peserta didik yang memiliki perilaku, semangat dan kemampuan untuk merespon secara positif terhadap kesempatan yang ada, untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri maupun masyarakat. Pendidikan entrepreneur mempunyai peran dan manfaat yang sangat luas. Melalui pendidikan entrepreneur peserta didik akan dibentuk menjadi pribadi yang mempunyai kemandirian tinggi, tanpa harus memiliki ketergantungan terhadap orang lain termasuk dalam mengambil keputusan.

Menurut Fatimah (2014), seorang entrepreneur adalah pekerja keras dan orang yang sangat mandiri. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari entrepreneurship antara lain adalah 1) peluang untuk mengendalikan nasib sendiri, 2) peluang untuk mencapai potensi sepenuhnya, 3) peluang untuk melakukan perubahan, 4) peluang untuk berperan dalam masyarakat, 5) peluang untuk mendapatkan pengakuan masyarakat, 6) peluang untuk memperoleh keuntungan tanpa batas, dan 7) peluang untuk melakukan sesuatu yang disukai.

Pendidikan entrepreneur sangat erat kaitannya dengan pendidikan kecakapan hidup (life skill). Life skill dari sisi etimologi adalah istilah dari bahasa Inggris, dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan istilah kecakapan hidup. Menurut Departemen Pendidikan Nasional dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), kecakapan hidup adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk dapat hidup.

Definisi yang lain bahwa kecakapan hidup adalah kecakapan seseorang untuk beradaptasi dan berperilaku positif sehingga menyebabkan seorang individu untuk melakukan reaksi secara efektif dalam menghadapi kebutuhan dan tantangan sehari-hari (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan : 2007).

Sedangkan menurut Anwar (2006), life skill diartikan sebagai kemampuan seseorang yang diperlukan untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungannya berupa keterampilan dalam pengambilan keputusan, pemecahan masalah, berpikir kreatif, berpikir kritis, membina hubungan antar pribadi, berkomunikasi efektif, mempunyai empati dan dapat mengatasi stes serta emosi. Jika seorang individu memiliki kecakapan hidup maka ia akan sanggup, berani menghadapi hidup dengan segala permasalahannya tanpa rasa tertekan dan mampu secara proaktif dan kreatif untuk mencari solusi guna mengatasi problema kehidupannya (Muhaimin : 2003).

Sekolah sebagai lembaga formal berperan sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai entrepreneur bagi generasi muda. Sebagian lembaga pendidikan dituntut untuk dapat memberi bekal kepada lulusannya, sebagai generasi penerus bangsa yang mempunyai pondasi karakter yang kuat agar dapat bertahan di tengah persaingan global yang akan dihadapi di hari depannya. Memberikan pendidikan entrepreneur kepada peserta didik diharapkan dapat membekali mereka dengan kecakapan hidup yang akan sangat bermanfaat untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Pendidikan kecakapan hidup berorientasi kepada peserta didik agar mempunyai kemampuan dan modal dasar sehingga mereka kelak bisa hidup secara mandiri dan survive terhadap tekanan yang ada di sekitarnya.

Saat ini, terdapat beberapa permasalahan pada generasi muda Indonesia pada umumnya, yaitu sebagian dari mereka mempunyai minat dan motivasi yang rendah untuk berwirausaha. Hal ini tentu saja menjadi masalah serius bagi pemerintah, industri, dunia pendidikan dan masyarakat. Untuk itu agar masalah tersebut dapat teratasi, dibutuhkan solusi terbaik agar minat berwirausaha pada generasi muda dapat tumbuh sehingga dapat menjadi bekal untuk kehidupan mereka di lingkungan dengan daya saing yang tinggi.

Perlu kita sadari bersama bahwa jumlah pengangguran di Indonesia saat ini cukup memprihatinkan. Menurut catatan Badan Statistik (2020), pada bulan Agustus 2020 jumlah angkatan kerja di Negara kita mencapai 138,22 juta orang. Namun dari jumlah tersebut yang bekerja sebanyak 128,45 juta orang, sehingga mereka yang tidak bekerja adalah 10,77 juta orang. Banyaknya lulusan sekolah / sarjana yang menganggur tersebut karena mereka mencari lapangan pekerjaan, tetapi tidak berusaha menciptakan lapangan pekerjaan. Jiwa entrepreneur inilah yang akan mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru, sehingga juga mampu menyerap tenaga kerja.

Terbentuknya mental kewirausahaan pada generasi muda akan dapat membantu menciptakan lapangan kerja baru, yang akan dapat menyerap tenaga kerja dimasa yang akan datang (Dongoran, Nisa Sihombing & Purba : 2016). Upaya yang harus dilakukan sekolah saat ini adalah menanamkan karakter dan jiwa entrepeneurship kepada peserta didik sejak awal, dengan menerapkan metodologi dan prinsip-prinsip pembentukan life skill. Paradigma seorang entrepreneur harus ditumbuhkembangkan melalui proses pembelajaran.

Menurut Kemendiknas (2016), pendidikan dasar dapat mengimplementasikan nilai-nilai pokok entrepreneurship secara bertahap antara lain 1) kemandirian 2) kreatif 3) berani mengambil resiko 4) berorientasi pada tindakan 5) kepemimpinan dan 6) sukses. Banyak terobosan yang dapat dilakukan oleh sekolah untuk menumbuhkan jiwa entrepreneur pada diri peserta didiknya, melalui proses pembelajaran yang dilakukan sehari-hari di sekolah. Karakteristik peserta didik dan tingkatan jenjang pendidikan tentu saja akan sangat berpengaruh terhadap pilihan cara yang akan diterapkan.

Pembekalan kecakapan hidup (life skill) pada peserta didik dengan cara menumbuhkan jiwa entrepreneurship dapat dilakukan melalui beberapa cara antara lain: Salah satu contoh pengaplikasian pendidikan kewirausahaan pada peserta didik adalah program Market Day. Fungsi dari kegiatan ini bagi peserta didik adalah untuk melatih jiwa entrepreneur, melatih kreativitas dan inovasi serta pemahaman terhadap dunia bisnis (Zultiar & Leonita, S. : 2017).

Program Market Day merupakan program yang dilaksanakan oleh sekolah-sekolah mulai dari tingkat PAUD sampai dengan tingkat Pendidikan Menengah Atas/SMK, sebagai program pengembangan keterampilan peserta didik dalam berwirausaha. Jika keterampilan wirausaha ini diterapkan dan dikembangkan sejak dini, maka akan menjadi pondasi yang kuat untuk menumbuhkan jiwa entrepreneur. Keterampilan kewirausahaan (entrepreneurship) ini merupakan kemampuan peserta didik sebagai bentuk penguasaan pengetahuan yang kelak akan diterapkan dalam kehidupannya (Saroni : 2012).

Selain untuk menumbuhkembangkan jiwa entrepreneurship, kegiatan Market day yang dilaksanakan di sekolah sekaligus juga dapat dijadikan sarana untuk penguatan karakter siswa seperti rasa percaya diri, mampu berkomunikasi dan dapat melatih kecerdasan bisnis peserta didik. Program Market Day ini adalah bentuk pengembangan model pembelajaran Project Based Learning (PBL), yang dikemas dalam istilah Project Based Learning Market Day. Model pembelajaran ini merupakan model pembelajaran yang berbasis proyek yang melibatkan peserta didik untuk merekonstruksi pengetahuan, keterampilan dan mengkulminasikannya dalam produk nyata, serta memasarkan produk tersebut pada teman, guru atau masyarakat sekitar melalui bazar atau pasar yang diselenggarakan oleh sekolah.

Ada enam langkah kerangka dasar design pelaksanaan PBL Market Day yaitu 1) menentukan permasalahan mendasar yang akan digunakan untuk sebuah proyek yang menuntut penyelesaian; 2) mendesain proyek; 3) menyusun jadwal pelaksanaan proyek; 4) memonitor kemajuan proyek; 5) menguji proses dan hasil dan 6) mengevaluasi pengalaman membuat proyek. Pelaksanaan Market Day ini akan mampu menumbuhkan kreativitas , inovasi dan life skill dibidang kewirausahaan, sehingga dalam diri mereka akan tumbuh semangat dan daya saing dalam berwirausaha (Rohmah : 2020).

Pengembangan dan pembekalan life skill kepada peserta didik sangat diperlukan, seperti pernyataan Darwyansyah (2006), bahwa ada beberapa alasan pentingnya membekali peserta didik dengan life skill agar mereka kelak sukses dalam kehidupannya. Keterampilan atau kecakapan hidup tersebut antara lain adalah 1) disiplin, jujur, amanah, cerdas, sehat, bugar, pekerja keras, pandai mencari dan memanfaatkan peluang, mampu bekerjasama dengan orang lain dan berani mengambil keputusan; 2) dengan bekal keterampilan hidup yang diberikan oleh sekolah kepada peserta didik diharapkan adanya kesesuaian dengan kecakapan atau keterampilan yang dibutuhkan oleh peserta didik setelah lulus, untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *