UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN MINAT BERWIRAUSAHA

SISWA KOMPETENSI KEAHLIAN TATA BUSANA

SMK NEGERI 1 WARUREJA

Desi Putri Asih, S.Pd. ~ SMK Negeri 1 Warureja merupakan salah satu dari 7 SMK Negeri di Kabupaten Tegal. Didirikan pada tanggal 3 Oktober 2005, SMK yang terletak di ujung timur Kabupaten Tegal ini memiliki 32 ruang belajar yang telah dilengkapi dengan sarana ruang praktik, sarana ibadah, sarana olahraga, dan berbagai sarana kegiatan lain yang dapat mendukung terlaksananya kegiatan pembelajaran. Salah satu Kompetensi Keahlian di SMK Negeri 1 Warureja adalah Kompetensi Keahlian Tata Busana. Kompetensi Keahlian Tata Busana merupakan salah satu kompetensi keahlian yang pembelajarannya berupa praktik dibidang busana diantaranya yaitu menggambar busana dan membuat produk busana serta pemasarannya. Untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam bidang seni dan ekonomi kreatif, sebagai siswa Kompetensi Keahlian Tata Busana dalam pembelajarannya harus bisa membuat produk busana sekaligus memasarkannya, sehingga untuk mewujudkan  hal tersebut siswa Kompetensi Tata Busana dilatih dan dibimbing untuk  memproduksi banyak busana seperti pakaian seragam sekolah, wearpack, busana anak, dan busana wanita, mukena serta lenan rumah tangga. Untuk menghasilkan berbagai macam produk busana, siswa Kompetensi Keahlian Tata Busana di SMK N 1 Warureja tidak hanya dilatih hard skill saja yaitu kemampuan berupa ketrampilan membuat produk, akan tetapi siswa juga diajarkan soft skill berupa kemandirian, ketelitian, kerja keras, ketekunan, kreatifitas, komunikasi yang baik dan sebagainya.

Salah satu mata pelajaran di Kompetensi Keahlian Tata Busana di SMK Negeri 1 Warureja adalah mata pelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan. Produk Kreatif Kewirausahaan atau PKK merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan pada peserta didik XII (dua belas) Tata Busana (TB). Dalam mata pelajaran PKK, peserta didik diwajibkan membuat suatu produk usaha yang didapat dari pesanan pelanggan. Mereka harus mencari pelanggan untuk memesan produk yang akan dibuat, seperti kebaya, busana anak, lenan rumah tangga, mukena dan lain-lain sesuai dengan keinginan pelanggan. Konsep berwirausaha diberikan kepada siswa-siswi untuk menjadi bekal ketika mereka lulus dan melanjutkan berwirausaha. Hal tersebut diberikan agar mereka mampu bersaing dalam dunia wirausaha yang berkembang pada saat ini, karena saat ini anak muda sudah berkembang pesat untuk dunia usaha. Dari pembelajaran PKK berbasis wirausaha tersebut, siswa juga mendapatkan uang atau upah sesuai dengan pesanan dari pelanggan. Siswa membuat laporan yang terdiri dari desain, project sewing, cara menentukan harga pokok produksi, laba dan harga jual.

Untuk itu maka SMK memerlukan guru yang bisa menjalankan perannya untuk mendampingi, melatih dan menyampaikan ilmu-ilmunya untuk siswa-siswanya agar tercapai tujuan sekolah menengah kejuruan (SMK) yaitu meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia dan ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan nasional serta tercapainya standar kompetensi program keahlian dan kewirausahaan baik untuk memenuhi tuntutan dunia kerja maupun untuk mengikuti pendidikan tinggi sesuai dengan kejuruannya.

Kewirausahaan merupakan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda melalui pemikiran kreatif dan tindakan inovatif demi terciptanya peluang. Sedangkan wirausahawan adalah orang yang memiliki kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis, mengumpulkan berbagai sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil keuntungan dan tindakan yang tepat serta memiliki sifat, watak dan kemauan untuk mewujudkan gagasan inovatif dalam rangka meraih sukses dan meningkatkan pendapatan.

Jiwa kewirausahaan sangat diperlukan bagi siswa. Minat berwirausaha harus ditumbuhkan sejak dini pada siswa, guru harus melakukan upaya untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat berwirausaha bagi siswanya agar memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang kerja sendiri ketika lulus SMK nanti.

Agar siswa memiliki kemampuan kreatif, maka perlu dilakukan perbaikan pembelajaran yang dilakukan. Dalam pelaksanaannya dalam pembelajaran, umumnya pendidik menggunakan model pembelajaran yang relevan dengan mata pelajaran yang diajarkan dan efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran. Teladan dan kreativitas dalam melakukan suatu pekerjaan. Aspek keterampilan yang dapat dikembangkan melalui kerja proyek adalah kemampuan menggunakan perkakas tangan, kemampuan menggunakan alat-alat dasar, kemampuan bekerja dalam tim, kemampuan memanfaatkan berbagai informasi, dalam hal ini kerja proyek atau penugasan proyek dapat memberikan pelatihan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan (Kamdi, 2010). Pembelajaran merupakan proses yang kompleks, karena kegiatan pembelajaran selalu mengintegrasikan berbagai komponen dan kegiatan yaitu siswa dengan lingkungan belajar untuk memperoleh perubahan tingkah laku yaitu hasil belajar (Primawati, 2017).

Pembelajaran merupakan suatu sistem yang kompleks yang keberhasilannya dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek produk dan aspek proses. Keberhasilan pembelajaran dilihat dari sisi produk adalah keberhasilan siswa mengenai hasil yang diperoleh dengan mengabaikan proses pembelajaran (Sanjaya, 2011).

Menanggapi hal tersebut di atas, pada mata pelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan Tata Busana Kelas  XII SMK Negeri 1 Warureja Kecamatan Warureja Kabupaten Tegal menerapkan model pembelajaran Project Based Learning untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar produk kreativitas wirausaha siswa. Model Project Based Learning membimbing siswa untuk melakukan pekerjaan berbasis proyek.

Penerapan model Project Based Learning dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan kompetensi keterampilan siswa (Nizwardi, 2017). Selain itu model Project Based Learning ini dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih sesuai dengan kompetensi tertentu, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap kerja dan hasil produk.

Project Based Learning adalah strategi belajar mengajar yang melibatkan siswa untuk mengerjakan suatu proyek yang berguna untuk memecahkan masalah masyarakat atau lingkungan (Sani, 2014). Pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk mengembangkan kreativitasnya dalam merancang dan membuat proyek yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah dalam pembelajaran.

Langkah-langkah metode pembelajaran Project Based Learning adalah sebagai berikut: 1. Penentuan pertanyaan mendasar (start with essential question); 2. Menyusun perencanaan proyek (design project); 3. Menyusun jadwal (create schedule); 4. Memantau siswa dan kemajuan proyek (monitoring the students and progress of project); 5. Penilaian hasil (assess the outcome); 6. Evaluasi Pengalaman (evaluation the experience).

Dalam melaksanakan proses pembelajaran Project Based Learning, siswa menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran, guru akan menilai kemampuan belajar siswa, kemampuan siswa menguasai materi, kemampuan siswa menganalisis pendapat dan masukan dari teman satu kelompok, dan kemampuan berkomunikasi dalam menyampaikan pendapat. Sebagai contoh pelaksanaan Project Based Learning di Kompetensi Keahlian Tata Busana SMK Negeri 1 Warureja adalah pembuatan Mukena Sekolah sebagai produk pesanan dari sekolah untuk kebutuhan pengadaan Mukena di Mushola sekolah.

Upaya yang dilaksanakan oleh guru Produk Kreatif dan Kewirausahaan adalah dengan mengadakan pembelajaran berbasis proyek. Guru Produk Kreatif dan Kewirausahaan akan membagi siswa dalam tim kerja kemudian mulai melaksanakan proyek tersebut dengan langkah-langkah model pembelajaran Project Based Learning di atas. Hasil dari model pembelajaran Project Based Learning berupa produk Mukena yang terdiri dari satu set mukena atasan dan bawahan serta tas mukena. Setelah produk selesai dikerjakan, siswa melanjutkan dengan proses pemasaran, yaitu menyerahkan produk tersebut ke pihak pemesan. Proses terakhir yaitu siswa membuat laporan dan evaluasi pengalaman dalam pembuatan produk tersebut.

Berdasarkan adanya hasil berupa produk tersebut, sehingga terbukti penerapan model pembelajaran Project Based Learning dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Produk Kreatif dan Kewirausahaan Kelas XII Tata Busana SMK Negeri 1 Warureja 3  Kecamatan Warureja Kabupaten Tegal. Peningkatan aktivitas dan hasil belajar ini tercapai karena model pembelajaran Project Based Learning menjadikan siswa aktif, terampil dalam belajar dan mengungkapkan ilmunya selama proses pembelajaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *