Dicky Novianto, S.Pd. ~ Kitab Negara kertagama merupakan kakawin jawa kuno karya mpu Prapanca. Kakawin ini juga dinobatkan sebagai kakawin yang paling banyak diteliti. Kitab tersebut secara umum berisi uraian tentang keadaan kerajaan Majapahit selama masa kepemimpinan Hayam Wuruk raja nanmasyhur di Majapahit tahun 1350 sampai 1389.
Negara kertagama sendiri memiliki makna “negara dengan tradisi agama yang suci”.  Kakawin ini bersifat pujasastra yakni karya sastra yang menyanjung dan mengagung-agungkan raja Hayam Wuruk, serta kewibaannya selama memimpin Majapahit. Tujuan Mpu Prapanca menuliskan Negara kertagama adalah untuk pembuktian dalam menghaturkan bakti kepada sang mahkota, serta berharap sang raja akan mengingat sang pujangga yang dahulu pernah berbakti kepada kerajaan.
Salah satu aspek yang dibahas dalam Negara kertagama yakni mengenai wilayah kerajaan Majapahit Pada masa tersebut. Sebagaimana Negara modern saat ini di masa lampau kerajaan juga memiliki wilayah teritori. Wilayah atau teritorial dari suatu kerajaan terdiri dari daratan dan lautan. Wilayah tersebut juga tentunya menjadi batasan-batasan yang memisahkan antara wilayah kerjaan beserta vasal-vasalnya dengan daerah atau wilayah lain diluar kekuasaannya.
Majapahit awalnya merupakan sebuah perkampungan kecil di sebelah timur lembah sungai Brantas, yang dibangun dengan pembukaan hutan tarik oleh Sanggrama wijaya. Pada akhir tahun 1292 tempat diwilayah tersebut masih berupa hamparan hutan belantara yang belum dijamah. Disana terdapat banyak sekali pohon-pohon maja seperti kebanyakan tempat lainnya di lembah sungaiBrantas. Berkat perintah untuk menebangi hutan tarik oleh adipati Wiraraja dari sumenep akhirnya mulai berdatangan orang-orang madura yang diperintah langsung olehnya.
Setelah hutan tersebut berhasil ditebangi untuk dijadikan lahan guna kebutuhan ladang oleh orang-orang madura tempatini kemudian diberi nama Majapahit. Kemudian pertambahan penduduk terjadi setelah kehadiran dari orang-orang Singasari, yang bersimpati kepada Naraya Sanggramawijaya. Naraya akhirnya menjadi kepala desa di Majapahit pada permulaan 1293 setelah ia meninggalkan Daha (Muljana, 2006: 174).
Naraya Sanggramawijaya kemudian mengalahakan Raja Jayakatwang dari Kediri yang akhirnya membuat daha runtuh pada 1293. Maka ia mengambil alih kekuasaan Raja Jayakatwang serta wilayah kerajaan kadiri. Kemudian desa Majapahit ditingkatkan menjadi  pusat pemerintahan kerajaan baru yang disebut kerajaan Majapahit. Wilayah tersebut pun bertransformasi dari desa menjadi kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja. Kemudian Majapahit menjadi kerajaan serta desa Majapahit menjadi pusat kerajaannya.
Pada masa tersebut wlayah kerajaan Majapahit meliputi daerah kerajaan lama Singasari, kadiri,dan baru hanya sebagian dari wilayah Jawa Timur. Sepeninggal Rangga Lawe pada tahun 1295, atas permintaan Wiraraja sesuai dengan janji Sanggramawijaya, kerajaan Majapahit dibagi menjadi dua. Bagian timur, yang meliputi daerah Lumajang diserahkan kepada Wiraraja.
Pada akhir abad ke-13 wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit hanya meliputi daerah Kediri, Singasari, Jenggala (Surabaya) dan pulau Madura. Dengan penumpasan nambi pada tahun 1316 daerah Lumajang bergabung lagi dengan Majapahit seperti tercatat pada serat kekancingan Lamongan. Sejak tahun 1331 wilayah Majapahit semakin diperluas utamanya adalah berkat penundukan sadeng, di tepi sungai Badadung dan keta di pantai utara dekat Panarukan. Pada waktu itu wilayah kerajaan Majapahit sudah mencakup seluruh wilayah Jawa Timur dan Pulau Madura.
Baru setelah Jawa Timur dikuasai penuh, Majapahit mulai menjangkau pulau-pulau diluar Jawa yang disebut Nusantara. Perluasan wilayah merupakan suatu keberlanjutan dari pertalian politik Gadjah Mada yang pada 1334 diangkat sebagai patih Amangkubumi. Untuk menjayakan program politiknya, para pembesar-pembesar di Majapahit yang tidak menyetujuinya mulai disingkirkan secara perlahan oleh Gadjah Mada. Namun, aktualisasinya baru dimulai tahun 1343 dengan pendudukan pulau yang paling dekat dengan Jawa Bagian timur yakni Pulau Bali. Antara tahun 1343 dan 1347 Pu Adityawarman meninggalkan Jawa untuk mendirikan kerajaan Malayapura di Minangkabau, seperti diberitakan piagam Sanskertapada arca Amoghapasa, 1347 yang didalamnya Adityawarman menyandang gelar Tuhan Patih.
Tarikh penundukan Suwarnabhumi kiranya disekitar tahun 1350; keruntuhannya mengakibatkan jatuhnya daerah bawahannya di sumatra dan di semenanjung Tanah melayu ke dalam kekuasaan Majapahit. 12 Negara bawahan Suwarnabhumi: 1. Pahang, 2. Trengganu, 3. Langkasuka, 4. Kelantar, 5. Woloan, 6. Creating, 7. Paka, 8. Tembeling, 9. Grahi, 10. Palembang, 11.Muara Kampe, 12. Lamuri. Kiranya Palembang dijadikan batu loncatan bagi tentara Majapahit untuk menundukan daerah-daerah lain di sebelah barat Pulau Jawa.
Negara Islam Samudra yang terletak di Sumatra bagian Utara juga tercatat sebagai daerah bawahan Majapahit. Kisah tentang serbuan oleh tentara Majapahit diberitakan dalam Hikayat Raja-Raja Pasai. Ekspedisi ke sumatera kemungkinan besarnya langsung dipimpi oleh Gadjah Mada seorang. Karena ada beberapa nama tempat yang mengindikasikan nama Gadjah Mada. Seperti sebuah bukit didekat Kota Langsa bernama Manjak Pahit.
Mengenai pedudukan beberapa tempat di Tanjung Pura atau Kalimantan terdapat  pemberitaannya dalam sejarah Dinasti Ming (Pramudito, 2006: 188).Yang kiranya berisi : Hiawang[1] dan Pamannya konon memberitahukan bahwa kerajaannya setiap tahun mempersembahkan upeti sebanyak 40 kati kapur barus kepada raja Jawa. Demikianlahkiraya bukti bahwa Brunei itu menjadi negara bawahan Majapahit. Kemudian ada kutei di Kalimantan bagian Timur. Hubungan antara Majapahit dan Kutei diberitakan dalam Silsilah Kutei. Hubungan Banjar dan Kota Waringin di Kalimantan bagian Selatan dengan Majapahit diberitakan dalam Hikayat Banjar dan Kota Warimgin.
Mengenai pulau-pulau di sebelah timur Jawa, pertama-tama disebut Pulau Bali yang ditaklukan pada tahun 1343, berikut pulau Lombok atau Gurun yang dihuni oleh suku Sasak. Kedua pulau ini hingga saat ini masih menunjukkan adanya pengaruh kuat dari Majapahit, sehingga penguasaan Majapahit atas Bali dan Lombok tidak diragukan lagi.
Kota Dompo ang terletak di Pulau Sumbawa ditundukkan oleh Majapahit tentara Majapahit dibawah pimpinan Empu Nata pada tahun 1357. Penemuan piagam Jawa dari abad 14 di Pulau Sumbawa memperkuat pemberitaan yang dituliskan dalam Negarakertagama dan Pararaton yang menyebutkan Bahwa Majapahit telah menaklukan Pulau Sumbawa. Piagam itu adalah satu-satunya yang pernah ditemukan di kepulauan di luar Jawa. Rupanya Dompo dijadikan batu lonctan bagi Majapahit (sama seperti Palembang) untuk menguasai pulau-pulau kecil lainnya disebelah Timur Sumbawa sampai Wanin di pantai barat Papua.
Berbeda dengan di Sumatera dan Kalimantan di daerah sebelah timur Pulau Jawa kecuali bali dan Lombok, tidak ada hikayat-hikayat daerah. Sehingga juga tidak ada dongeng tertulis tentang hubungan Majapahit dengan daerah-daerah tersebut.

Daerah-daerah di luar jawa yag dikuasai Majapahit pada pertengahan abad 14 seperti diberitakan oleh Negarakertagama pupuh 13 dan 14 adalah sebagai berikut:

  1. Di Sumatera: Jambi, Palembang, Dharmasraya, Kandis, Khalwas, Siak, Rokan, Mndailing, Panai, Kampe, Haru, Temiang, Parlak, Samudra, Lamuri, Barus, Batan, Lampung.
  2. Di Kalimantan(TanjungPura); Kapuas, Katingan, Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Singkawang, Tirem, Landa, Sedu, Barune, Sukadana, Seludung, Solot, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjung Kutei, Malano.
  3. Di Semenanjung Tanah Melayu: Pahang, Langkasuka, Kelantan Saiwang, Nagor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang, Jerai.
  4. Sebelah Timur Jawa: Bali, Badahulu, LoGjah, Gurun, Sukun, Taliwung, Dompo, Sapi, Gunung Api, Seram, Hutan Kadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makasar, Buton, Banggawi, Kunir, Galian, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan, (Banda), Ambon atau Maluku, Wanin, Seran, Timor

Keberhasilan Majapahit dalam menaklukan wilayah-wilayah koloninya bias terjadi karena Majapahit memiliki armada angkatan laut yang kuat. Mereka mampu menguasai perairan yang pada masa tersebut merupakan jalur transportasi utama. Kehebatan ini semakin menunjukan bahwa julukan Negara Maritim memang patut untuk disematkan kepada kerajaan tersebut. Para prajuritnya merupakan pelaut ulung serta memiliki keterampilan yang sangat dibutuhkan dalam bertahan di daratan maupun dilautan.
Selain itu mereka juga memiliki pemimpin pasukan yang berpengalaman dan memiliki kemampuan diatas rata-rata. Sehingga meningkatkan presentasi keberhasilan dalam memenangkan pertempuran. Salah satu panglima perang paling berpengaruh yang pernah dimiliki oleh Majapahit yakni Gadjah Mada. Ia memiliki peran yang cukup signifikan dalam menghantarkan Majapahit menuju masa kejayaannya.
Sumpah Palapa yang pernahdiucapkan oleh Gadjah Mada merupakan salah satufaktor yang bepengaruh dalam perluasan wilayah kekuasaan Majapahit. Sumpahnya berbunyi “Bila telah mengalahkan (menguasai) Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa, bila telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompu, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa”. Hal ini tentunya menjadi pelecut semangat bagi pasukan Majapahit dalam menaklukan wilayah-wilayah bawahannya. Meskipun ini merupakan ambisi pribadi seorang Gadjah Mada akan tetatpi ia mampu merealisasikannya.
Pada masa kepemimpinan Hayam Wuruk Gadjah Mada banyak terlibat langsung dalam upaya penaklukan sejumlah wilayah seperti Lo gajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunung Sapi, Seram, Hutan kadali, Sasak, Bantayan, LuwuButon, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Saparua, Solor, Bima, Banda, Ambon, Wanin, Seram, Timor dan Dompo.
Selain itu faktor-faktor yang semakin memperluas teritori Majapahit adalah karena pengertian daerah bawahan pada abad 14 berbeda dengan pengertian koloni dalam zaman modern. Persembahan upeti yang tidak banyak nilainya, oleh daerah tertentu ke pada Majapahit sudah dapat dianggap sebagai bukti pengakuan kekuasaan Majapahit atas daerah yang bersangkutan dan karena daerah itu dianggap sebagai daerah bawahannya. Misalnya pada kasus daerah Pu-Ni (Brunei) yang hanya mempersembahkan upeti tahunan berupa kapur barus sebanyak 40 kati kepada Raja Hayam wuruk.
Kehebatan Majapahit yang mampu mengimpun berbagai daerah dan kepulauan dibawah lindungan satu kerajaan merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dan jika dilihat dari sudut politik maka timbulnya Majapahit sebagai kekuasaan besar di Asia bagian Tenggara menjadi ancaman baru bagi daerah atau wilayah lain disekitarnya. Penyatuan Jawa dengan gugusan kepulauan Nusantara dibawah kekuasaan Majapahit merupakan peristiwa besar yang belum pernah tercatat sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA
Muljana, Slamet. 2006. Tafsir Sejarah Nagarakretagama. Yogyakarta: LKiS Yogyakarta
Pramudito, Bambang. 2006. Kitab Negarakertagama. Yogyakarta: Gelombang Pasang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *