Yaskuri, S.Kom. ~ Situasi dan kondisi yang menjadi latar belakang masalah mengapa praktik ini penting untuk dibagikan. Situasi dari segi kesiapan dan pemahaman guru tentang Kurikulum Merdeka. Perubahan kurikulum dari Kurikulum 2013 (K-13) ke Kurikulum Merdeka, mengharuskan guru perlu mempelajari dan memahami sepenuhnya Kurikulum Merdeka untuk dapat mengimplementasikannya dengan baik. Guru perlu beradaptasi dengan perubahan dalam pendekatan, strategi, dan metode pengajaran yang ditetapkan dalam kurikulum baru. Namun masih banyak guru yang kurang memahami tentang penyusunan perangkat pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Padahal perangkat pembelajaran menjadi faktor penting pada keberhasilan proses pembelajaran.
Situasi dan kondisi peserta didik yang terjadi saat ini adalah :
- Pengetahuan dan keterampilan dasar peserta didik tentang TIK yang masih sangat kurang.
- Kurangnya rasa percaya diri peserta didik pada proses pembelajaran. Peserta didik malu untuk bertanya dan menjawab pertanyaaan serta dalam memberikan tanggapan.
- Peserta didik kurang inisiatif dan pasif pada saat pembelajaran
- Beberapa peserta didik terlihat sibuk sendiri mengobrol saat pembelajaran.
- Beberapa peserta didik sibuk bermain gawai saat proses pembelajaran.

Dari situasi peserta didik tersebut maka guru perlu menggunakan model pembelajaran inovatif berbasis Student Centered Learning. Pembelajaran yang melibatkan siswa untuk berperan aktif, berkolaborasi, bekerja sama, sehingga menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan, efektif, dan menarik perhatian siswa sehingga mampu meningkatkan motivasi, semangat dan hasil belajar siswa.
Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan metode Plugged yaitu dengan memanfaatkan komputer dan gawai, pendekatan saintifik serta TPACK saya harap dapat mengatasi permasalahan pembelajaran tersebut. Dengan model pembelajaran PBL ini dapat mendorong peserta didik untuk aktif dalam menyelesaikan permasalahan yang diberikan oleh guru salah satunya melalui diskusi kelompok, literasi digial dan presentasi hasil karya.
Peran dan tanggung jawab guru dalam praktik ini adalah sebagai fasilitator yang bertugas memfasilitasi peserta didik, membimbing peserta didik secara individu dan kelompok dalam diskusi, mengkondisikan kelas agar peserta didik tetap semangat dan berperan aktif dalam menyelesaikan masalah yang diberikan.
Tantangan yang harus dihadapi untuk meningkatkan partisipasi aktif peserta didik melalui model pembelajaran PBL ini adalah :
- Tidak semua peserta didik mampu dengan cepat menyesuaikan model pembelajaran yang diterapkan.
- Beberapa peserta didik yang masih salah persepsi dan kurang maksimal dalam mencerna masalah yang diberikan, sehingga kurang tepat dalam menyelesaikan masalah.
Yang terlibat dalam praktik ini adalah peserta didik kelas X (Fase E), guru mata pelajaran, untuk lingkup lebih luas dapat melibatkan Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah bidang kurikulum, dan teman sejawat.
Langkah – langkah yang dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut yaitu dengan membuat modul ajar yang ideal menggunakan model pembelajaran PBL serta menjalankan sintaknya secara urut dan maksimal. Pada Awal pembelajaran peserta didik diberikan pertanyaan pemantik untuk mengaktifkan daya nalar terhadap masalah yang akan diselesaikan.
Selanjutnya guru memberikan pengantar materi melalui video tutorial dan memberikan pertanyaan pertanyaan yang berkaitan dengan permasalahan, sehingga peserta didik lebih tertarik dan antusias dalam menyelesaikan masalah.
Setelah peserta didik sudah memahami masalah yang akan diselesaikan, guru mempersilahkan peserta didik untuk mencari referensi atau mencari solusi secara mandiri ataupun bekerja sama dalam kelompok atas masalah yang akan diselesaikan sesuai petunjuk LKPD.
Strategi yang di gunakan salah satunya adalah diskusi kelompok, dalam hal ini guru memfasilitasi peserta didik, membimbing, dan mengarahkan siswa jika ada kesulitan. Guru tetap mengupayakan agar peserta didik merasa nyaman dalam menyelesaikan permasalahan, untuk itu guru harus mampu mengelola kelas dan tidak perlu terlalu kaku. Selajutnya peserta didik menyajikan hasil karya atau mempresentasikan hasil pekerjaannya, pada kegiatan ini antar kelompok akan saling menanggapi satu sama lain sehingga dapat meningkatkan peran aktif peserta didik.
Penggunaan Tekologi informasi sebagai sumber daya atau media dalam pembelajaran seperti mencari referensi untuk menyelesaikan permasalahan. Dengan memaksimalkan penggunaan Teknologi Informasi (gawai) membuat peserta didik merasa lebih senang dikarenakan diperbolehkan menggunakan gawainya disamping itu juga peserta didik dapat memanfaatkan scan QR code untuk mengakses bahan ajar dan materi pembelajaran serta evaluasi pembelajaran.
Dampak dari aksi dari langkah – langkah yang telah dilakukan :
- Proses pembelajaran dengan model pembelajaran inovatif yang berpusat pada peserta didik Problem Based Learning (PBL) sudah efektif mampu meningkatkan keterlibatan siswa untuk berperan aktif, berkolaborasi, sehingga menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan, dan menarik perhatian siswa sehingga mampu meningkatkan motivasi, semangat dan mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik.
- Perancangan dan penerapan pembelajaran berbasis HOTS pada model pembelajaran Problem Based Learning mampu meningkatkan kemampuan 4C peserta didik yaitu meningkatkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis, kreatif, kolaborasi, dan berkomunikasi dengan baik.
- Dengan memanfaatkan media berbasis Teknologi Informasi untuk mencari referensi dan solusi dalam pemecahan masalah mampu meningkatkan literasi peserta didik.
- Guru dapat mengorganisasi peserta didik dengan baik dalam diskusi kelompok sehingga pembelajaran lebih kondusif dan lebih terarah.
- Peserta didik lebih senang dan bersemangat serta termotivasi dalam menyelesaikan permalasahan yang diberikan dikarenakan peserta didik diperkenankan menggunakan gawainya.
Respon dari rekan sejawat menilai pembelajaran ini lebih efektif dalam meningkatkan peran aktif peserta didik dan respon dari guru pamong juga terjadi interaksi yang baik antara guru dengan peserta didik.
Faktor keberhasilannya adalah guru bisa berfungsi sebagi fasilitator yang baik saat proses pembelajaran maupun saat diskusi. Faktor ketidakberhasilannya adalah masih terdapat peserta didik yang tidak serius dalam pembelajaran dan masih terdapat peserta didik yang kurang berkontribusi dalam kelompok bahkan bisa dikatakan hanya menitip nama dalam kelompok.
Pembelajaran yang diperoleh dari keseluruhan proses adalah bahwa pembelajaran menggunakan model PBL dapat lebih efektif dalam meningkatkan keterlibatan peserta didik, meningkatkan kemampuan literasi serta memberi semangat peserta didik sehingga mereka bisa aktif dalam mengikuti pembelajaran.
