UPAYA MENINGKATKAN KREATIVITAS BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS X SMK NEGERI 1 WARUREJA PADA MATERI SUMBER – SUMBER SEJARAH (SEJARAH LOKAL) DENGAN MODEL PROJECT BASED LEARNING (PjBL) MELALUI PEMBUATAN VIDEO
Umi Kulsum, S.Sos. ~ Kreativitas Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kemampuan untuk mencipta. Pengertian kreativitas lainnya adalah daya cipta. Kreativitas merupakan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, baik yang benar-benar merupakan hal baru atau sesuatu ide baru yang diperoleh dengan cara menghubungkan beberapa hal yang sudah ada dan menjadikannya suatu hal baru. Selain itu, kreativitas adalah hal-hal yang membuat kita takjub dengan hal-hal baru, karena kreativitas bisa mewujudkan ide-ide cemerlang kita.
Pada abad ini pun terdapat beberapa keterampilan yang harus dikuasai oleh seseorang, khususnya siswa pada bidang pendidikan. Salah satu keterampilan abad 21 adalah kreativitas. Berdasarkan pandangan filsuf Yunani dalam buku Pedagogi Kreatif oleh Supriatna dan Maulidah (2020) mengatakan bahwa kreativitas itu merupakan suatu konsep yang mengandung unsur kebebasan untuk berpikir, bertindak, dan menghasilkan suatu karya. Kreativitas memiliki beberapa indikator menurut Sitepu (2019) yakni kemampuan berpikir lancar, kemampuan berpikir fleksibel, kemampuan berpikir orisinalitas, dan kemampuan elaboration. Kurangnya kreativitas peserta didik pada pelajaran sejarah pada materi sumber – sumber sejarah yang memfokuskan sejarah lokal dipengaruhi oleh :
- Pasifnya peserta didik dalam pembelajaran diskusi
- Beberapa peserta didik kurang fokus dan suka melamun
- Peserta didik tidak mampu menjawab pertanyaan lemparan dari guru
- Peserta didik jarang bertanya dan mengemukakan pendapat
- Model pembelajaran guru yang kurang menarik
- Karakter siswa yang berbeda ada yang pintar tapi pendiam ada yang memang aktif
- Siswa bosan dengan cara guru mengajar, terkadang suatu model pembelajaran sesekali dilakukan menarik tapi akan tidak menarik jika diterapkan terus menerus
- Media belajar siswa yang monoton hanya buku saja
Dukungan kemajuan teknologi menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan dalam pembelajaran. Salah satu bentuk proyek yang dihasilkan dan diterapkannya model Project Based Learning pada pembelajaran ini. Pembelajaran Berbasis Proyek atau Project Based Learning (PjBL) adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, inter pretasi, sisntesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. (Daryanto, 2014: 23).
Karakteristik Pembelajaran Berbasis Proyek atau Project Based Learning (PjBL)
- Peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja;
- Adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada Peserta didik;
- Peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atau permasalahan atau tantangan yang diberikan;
- Peserta didik secara kolaboratif bertanggung jawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan;
- Proses evaluasi dijalankan secara kontinyu;
- Peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktifitas yang sudah dijalankan
- Produk akhir aktifitas belajar dievalusi secara kualitatif; dan
- Situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan.
Hambatan yang terjadi dalam proses pembelajaran yaitu berhubungan dengan sajian materi yang kurang menarik dan penggunaan media pembelajaran yang kurang mendukung. Sehubungan dengan itu maka perlu adanya upaya untuk menggunakan media pembelajaran yang tepat, bervariasi dan menarik. Salah satu media yang dapat menarik perhatian siswa yaitu media video, karena media video menyajikan pembelajaran yang akan diterima siswa melalui penglihatan dan pendengaran.
Yudianto (2017) menjelaskan bahwa video adalah media elektronik yang dapat menggabungkan antara teknologi visual dan audio. Sehingga menghasilkan tayangan yang menarik dan dinamis. Dengan membuat video digital, siswa dapat menuangkan ide-ide dalam menyusun rancangan. Siswa juga dapat melatih kemampuan bekerja sama dengan kelompok yang akan dibentuk nantinya.
Video menurut berbagai sumber yang termasuk yaitu Video berasal dari media audio-visual yang menampilkan gerak yang disajikan dalam bentuk fakta pada suatu kejadian atau peristiwa. (Sadiman S Arief dkk., 2008: 74) Agar proses belajar mengajar dapat berhasil dengan baik, siswa sebaiknya diajak untuk memanfaatkan semua alat inderanya. Guru berupaya menampilkan rangsangan (stimulus) yang dapat diproses dengan berbagai indera. Semakin banyak indera yang digunakan untuk menerima dan mengolah informasi semakin besar kemungkinan 100 informasi itu dimengerti dan dapat di pertahankan dalam ingatan. Belajar dengan menggunakan indera ganda (pandang dan dengar) akan memberikan keuntungan bagi siswa. Siswa akan belajar lebih banyak dari pada jika materi pelajaran disajikan hanya dengan stimulus pandang atau hanya dengan stimulus dengar. (Azhar Arsyad, 2012: 8-9) Pada hakikatnya kreativitas itu memiliki enam bagian utama yaitu kreativitas sebagai sebuah bentuk pembelajaran, representasi, produktifitas, originalitas, berfikir dengan kreatif atau penyelesaian masalah, dan alam semesta/alam ciptaan. (Florence Beetlestone, 2012: 2)
Setiap orang memiliki potensi untuk melakukan aktifitas yang kreatif. Setiap siswa baru yang memasuki proses belajar, dalam benak mereka selalu diiringi dengan rasa ingin tahu. Pada tahap ini guru diharapkan untuk merangsang siswa untuk melakukan apa yang dinamakan dengan learning skills acquired, misalnya dengan jalan memberi kesempatan siswa untuk bertanya (questioning), menyelidik (inquiry), mencari (searching), menerapkan (manipulating) dan menguji coba (experimenting). Kebanyakan yang terjadi di lapangan adalah aktifitas ini jarang ditemui karena siswa hanya mendapatkan informasi yang bagi mereka adalah hal yang abstrak. Rasa ingin tahu siswa harus dijaga dengan cara memberikan kesempatan bagi mereka untuk melihat dari dekat, memegangnya serta mengalaminya.
Menurut Sumargono dalam buku Metodologi Penelitian Sejarah (2021), sumber sejarah merupakan kumpulan materi sejarah yang tersebar dan terdiversifikasi atau beraneka ragam. Sumber sejarah juga bisa diartikan sebagai jejak masa lampau yang merupakan hasil dari peninggalan serta kebudayaan manusia. Dikutip dari buku Metode Sejarah (2020) oleh Nina Herlina, sumber sejarah dibagi menjadi tiga jenis, yaitu : sumber tertulis, lisan, dan benda (artefak).
(1) Sumber tertulis Adalah sumber sejarah berupa peninggalan tertulis atau catatan peristiwa yang terjadi di masa lampau. Contoh sumber tertulis: Prasasti Dokumen Naskah Piagam Surat kabar Notulen Laporan Biografi Babad (cerita sejarah) Silsilah raja atau bupati. (2) Sumber lisan Merupakan sumber sejarah yang berbentuk keterangan langsung dari saksi mata atau pelaku dari peristiwa yang terjadi di masa lalu. Contoh sumber lisan: Gus Dur bercerita tentang bagaimana jabatannya sebagai Presiden Indonesia harus berakhir dalam waktu singkat. Seorang anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) menceritakan peristiwa yang dialaminya ketika terlibat dalam Serangan Umum. Contoh Sumber Sejarah Sekunder Sumber benda Adalah sumber sejarah yang diperoleh dari peninggalan benda kebudayaan. Sebaiknya sumber ini dikombinasikan dengan sumber sejarah tertulis dan lisan. (3) sumber benda: Sumber bersifat monumental, seperti masjid, candi, gereja, makam, dan patung. Sumber bersifat ornamental, contohnya relief, gambar dalam perkamen, serta ragam hias pada benda. Sumber grafis, misalnya peta, sketsa, masterplan kota, tabel, statistik, dan sidik jari. Sumber fotografis, seperti foto dan film.
Sejarah lokal sederhananya dapat dirumuskan pula sebagai kisah masa lampau dari sebuah kelompok atau kelompok-kelompok masyarakat di mana terletak pada wilayah geografis yang terbatas (Abdullah, 2010:15)
Peserta didik kelas X SMK negeri 1 Warureja memebuat video tentang sejarah lokal mulai bulan Agustus sampai dengan September 2022, peserta didik menggali peristiwa sejarah yang berada di lingkungan mereke tinggal. Peserta didik mencari sumber primer ataupun sumber sekunder sebagai bukti sejarah. Seperti Makam Wali penyebar agama Islam yang berada di lingkungan peserta didik, peserta didik berkelompok dan mewawancarai sumber sejarah. Ataupun mereka mencari sumber benda yang hidup pada masa peristiwa sejarah tersebut seperti jembatan dukuh bandung yang menghubungkan antara Pemalang dan Tegal selain jembatan sebagai sumber primer tersebut, juga diperkuat dengan wawancara pada pihak-pihak yang mengetahui bangunan jembatan tersebut. Peserta didik juga wawancara kepada pak Dakri sebagai penemu fosil pertama kali di desa Semedo. Peserta didik menggali sebanyak mungkin informasi-informasi yang didapat kemudian mereka mengolahnya, serta membuat video bukti wawancara dan bukti-bukti sumber sejarah yang lainya.
Setelah selesai pembuatan video sesuai jadwal 01 Agustus s.d. 16 September 2022, peserta mengumpulkan hasil pembuatan video melalui link youtube, email atau Whatshap ke guru sejarah. Setelah itu peserta didik mempresentasikan semua hasil videonya di masing-masing kelas. Peserta didik berbagi informasi mengenai hasil video sejarah lokal di masing-masing daerah tempat tinggal mereka. Setiap kelompok mempertanggungjawabkan hasil video tersebut.
Melalui pembelajaran pembuatan video sumber sejarah (sejarah lokal) dengan metode PjBL peserta didik SMK Negeri 1 Warureja khususnya kelas X kreativitasnya meningkat dalam pembelajaran sejarah pada materi sumber-sumber sejarah dengan memfokuskan pada sejarah lokal ditandai dengan:
- Peserta didik menghasilkan video sangat bagus dan kreatif
- Peserta didik bisa mempertanggung jawabkan hasil video sejarah lokal tersebut dengan penuh tanggung jawab
- Peserta didik bisa bekerjasama antar anggota kelompok dengan baik.
- Peserta didik menceritakan pengalamannya ketika mewawancarai nara sumber, dan mereka merasa senang mendapatkan pengalaman baru tersebut.
- peserta didik menjadi tahu peristiwa sejarah lokal yang berada disekitar mereka.
- Peserta didik mampu membedakan jenis – jenis sumber sejarah.
